Ngomong-ngomong soal prestasi mulia yang telah
ditorehkan generasi pendahulu kita, kayaknya kita pantas untuk bercermin dari
beliau-beliau deh. Bener. Maka nggak salah emang, bila generasi Islam di masa
lalu patut jadi teladan kita. Khususnya semangat dan aktivitas mereka saat
bulan Ramadhan ikhwatifillah. Di bulan Ramadhan justru tercatat sederet
kemenangan kaum muslimin dalam memporak-porandakan dan mempecundangi
musuh-musuhnya di setiap pertempuran. Begitu panjang dan gemilangnya sepak
terjang kaum muslimin, sehingga terpatrilah sebuah lembaran emas sejarah yang
tak mungkin terhapuskan dan terlupakan. Berikut ini adalah beberapa peristiwa
besar di bulan Ramadhan yang juga ikut menghantarkan kaum muslimin menuju
kemenangan:
17 Ramadhan 2 H; Perang Badar
al-Kubra. Boleh dibilang, ini adalah
perang “hidup-mati” antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir Quraisy.
Sebab, seandainya saja meski nggak boleh berandai-andai kaum muslimin kalah,
kayaknya tamat deh riwayat Islam. Tapi terlepas dari “seandainya”, ternyata
atas izin Allah kaum muslimin berhasil meraih kemenangan gemilang.
Kisahnya,
Rasulullah saw dan pasukannya berangkat dari Madinah pada tanggal 8 Ramadhan.
Menurut Ibnu Hisyam, perang ini merupakan kemenangan perdana yang menentukan
posisi kekuatan kaum muslimin dalam menghadapi kekuatan kaum musyrikin. Tuh
kan, coba, bayangin aja. Dalam keadaan berpuasa, ditambah harus menahan
panasnya terik matahari, udah gitu berada di di tengah samudera pasir, dan
satu lagi…, harus perang. Wah, nggak kebayang deh gimana beratnya. Namun,
karena kaum muslimin berjuang dilandasi dengan keimanan kepada Allah Swt,
maka rintangan dan hambatan sekuat dan sebesar apapun bukan alasan untuk
mundur dan kabur. Justru mereka malah tambah semangat, karena yakin dengan
pertolongan Allah. Buktinya, memang benar-benar sukses. Laahaula
walaa quwwata illa billahi!
21 Ramadhan 8 H; Futuh
Makkah (Penaklukan Makkah). Rasulullah saw. keluar dari Madinah tanggal 10 Ramadhan bersama 10.000
pasukan kaum muslimin dan dalam keadaan berpuasa. Jumlah ini memang jauh
lebih besar ketimbang saat Perang Badar. Rasulullah saw. dan pasukannya
berbuka di suatu tempat yang disebut Mukadid (antara daerah Asfan dan Amjad).
Setelah penaklukan Makkah secara damai, Rasulullah saw. tinggal di kota itu
selama 15 malam dengan melakukan shalat qashar. Penaklukan dan penguasaan ini
tidak disertai dengan pembantaian atau bentuk balas dendam lainnya. Padahal,
dulu ketika Rasulullah dan kaum muslimin hijrah karena tak tahan dengan
siksaan serta perlakukan keji dan kejam lainnya dari pihak kafir Quraisy,
rasanya cukup pantas bila itu dilakukan menurut kaca mata hawa nafsu. Namun
ternyata Rasulullah dan pasukannya tidak berbuat demikian. Justru inilah
penaklukan yang benar-benar penuh damai.
Ramadhan 10 H. Rasulullah saw. mengutus sepasukan tentara di bawah
pimpinan Ali bin Abi Thalib ke Yaman dengan membawa surat Nabi. Satu suku
yang berpengaruh di sana dengan tanpa paksaan langsung menerima dan masuk
Islam pada saat itu juga dan mereka shalat berjamaah bersama Ali bin Abi
Thalib.
Ramadhan 92 H. Panglima Thariq bin Ziyad bersama armada tempurnya
yang berjumlah 7000 pasukan, menyeberangi selat Giblartar (Jabal Thariq) demi
melakukan penaklukan di Andalusia, Spanyol. Bersama Ar-Roya (bendera
Islam; ditulisi lafadz syahadat berwarna putih di atas kain hitam)
berkibar-kibar menyertai pertempuran itu. Atas pertolongan Allah Swt. pasukan
Raja Rhoderick yang berkekuatan 100.000 pasukan tumbang di tangan pasukan
kaum muslimin yang hanya berjumlah 7000 pasukan ditambah 5000 pasukan
susulan. Allahu Akbar!
Ramadhan 129 H. Keberhasilan dan kemenangan dakwah Bani Abbas di
Khurasan di bawah kepemimpinan Abu Muslim al-Khurasany.
Ramadhan 584 H. Shalahuddin al-Ayubi memperoleh kemenangan
besar-besaran atas pasukan Salib Eropa. Tentara Islam menguasai daerah-daerah
yang sebelumnya diduduki orang-orang Kristen. Kemenangan itu mengakhiri
cengkeraman kekuasaan pasukan Salib atas bumi Palestina. Sejak saat itu,
Palestina kembali ke pangkuan Islam.
Bagi kaum pemudah penerus bangsa para generasi Rabbani,
rasa lapar dan haus bukanlah halangan untuk meninggikan kalimah tauhid dan
menghancurkan kekufuran.Melainkan Ramadhan
telah memberikan kemenangan yang besar bagi kaum muslimin generasi terdahulu.
Bagaimana dengan kita saat ini? Pasti bisa “ Man Jadda Wa Jadda” Allahu Akbar…
|
Post a Comment for "BULAN RAMADHAN (BULAN PUASA)? BULAN KEMENANGAN?"