A.
Latar
Belakang
Sejak manusia melakukan pertanian menetap, mulailah petani
mengupayakan pengelolaan kesuburan tanah, yaitu dengan penambahan bahan organik
untuk memulihkan kembali status hara dalam
tanah. Perkembangan selanjutnya tidak terbatas pada penggunaan pupuk
organik, namun juga dengan penggunaan pupuk buatan. Pada tahun enampuluhan
terjadilah biorevolosidi bidang
pertanian, yang dikenal sebagai revolosi hijauyang telah berhasil merubah
polapertanian dunia secara spektakuler.
Petani mulai berpaling meninggalkan penggunaan pupuk organik,
berubah ke penggunaan pupuk buatan yang berkonsentrasi hara tinggi. Dengan
revolosi hijau tersebut, produksi pangan dunia meningkat dengan tajam, sehingga
te lah berhasil mengatasi kekhawatiran dunia akan adanya krisis pangan dalam
dua-tiga dasawarsa terakhir. Peningkatan produksi pangan tersebut disebabkan
pola input intensive atau teknologi
masukan tinggiyang salah satunya dicirikan dengan penggunaan agrokimia yang
berupa penggunaan pupuk buatan dan pestisida yang tinggi, dan penggunaan
varietas unggul yang dicirikan oleh umur pendek dengan hasil tinggi, sehingga
terjadi pengurasan hara dalam kurun waktu yang pendek relatif tinggi. Akibat
dari perubahan pola budidaya ini, menyebabkan kebutuhan pupuk dunia melonjak
sangat pesat dari tahun ke tahun termasuk Indonesia.
Di Indonesia, sejak tahun 1968 terjadi peningkatan kebutuhan pupuk
buatan secara tajam. Penggunaan pupuk buatan yang berkonsentrasi tinggi yang t
idak proporsional ini, akan berdampak pada penimpangan status hara dalam tanah
(Notohadiprawiro, 1989), sehingga akan memungkinkan terjadinya kekahatan hara
lain. Di samping itu, petani mulai banyak yang meninggalkan penggunaan pupuk
organik baik. Dimana kesuburan tanah juga tidak terlepas dari keseimbangan
biologi, fisika dan kimia; ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan sangat
menentukan tingkat kesuburan lahan pertanian. Pemupukan akan efektif jika pupuk
yang ditebarkan dapat menambah atau melengkapi unsur hara yang telah tersedia
di dalam tanah. Karena hanya bersifat menambah atau melengkapi unsur hara, maka
sebelum digunakan harus diketahui gambaran keadaan tanahnya, khususnya
kemampuan awal untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
B.
Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah
Bahan orgnik di samping berpengaruh terhadap pasokan hara tanah
juga tidak kalah pentingnya terhadap sifat fisik, biologi dan kimia tanah
lainnya. Syarat tanah sebagai media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik dan kimia
yang baik. Keadaan fisik tanah yang baik apabila dapat menjamin pertumbuhan
akar tanaman dan mampu sebagai tempat aerasi dan lengas t anah, yang semuanya
berkaitan dengan peran bahan organik. Peran bahan organik yang paling besar
terhadap sifat fisik tanah meliputi : struktur, konsistensi,
porositas, daya mengikat air, dan yang tidak kalah penting adalah peningkatan
ketahanan terhadap erosi.
C.
Peran
Bahan Organik Terhadap Kesuburan Fisik Tanah
Bahan organik tanah merupakan salah satu bahan pembentuk agregat
tanah, yang mempunyai peran sebagai bahan perekat antar partikel tanah untuk
bersatu menjadi agregat tanah, sehingga bahan organik penting dalam pembentukan
struktur tanah. Pengaruh pemberian bahan organik terhadap struktur tanah sangat
berkaitan dengan tekstur tanah yang diperlakukan. Pada tanah lempung yang
berat, terjadi perubahan struktur gumpal kasar dan kuat menjadi struktur
yang lebih halus tidak kasar, dengan derajat
struktur sedang hingga kuat, sehingga lebih mudah untuk diolah. Komponen organik
seperti asam humat dan asam fulvat dalam hal ini berperan sebagai sementasi pertikel
lempung dengan membentuk komplek lempung-logam -humus (Stevenson, 1982).
Pada tanah pasiran bahan organik dapat diharapkan merubah struktur
tanah dari berbutir tunggal menjadi bentuk gumpal, sehingga meningkatkan
derajat struktur dan ukuran agregat atau meningkatkan kelas struktur dari halus
menjadi sedangatau kasar (Scholes et
al., 1994). Bahkan bahan organik dapat mengubah tanah yang semula tidak berstruktur
(pejal) dapat membentuk struktur yang baik atau remah, dengan derajat struktur
yang sedang hingga kuat.
Mekanisme pembentukan egregat tanah oleh adanya peran bahan
organik ini dapat digolongan dalam empat bentuk: (1) Penambahan bahan organik
dapat meningkatkan populasi mikroorganisme tanah baik jamur dan actinomycetes.
Melalui pengikatan secara fisik butir-bitir primer oleh miselia jamur dan actinomycetes, maka akan terbentuk agregat walaupun tanpa
adanya fraksi lempung; (2) Pengikatan secara kimia butir-butir lempung melalui
ikatan antara bagian–bagian positip dalam butir lempung dengan gugus negatif
(karboksil) senyawa organik yang berantai panjang (polimer); (3) Pengikatan
secara kimia butir-butir lempung melalui ikatan antara bagian-bagian negatif
dalam lempung dengan gugusan negatif (karboksil) senyawa organik berantai
panjang dengan perantaraan basa-basa Ca, Mg, Fe dan ikatan hidrogen; (4) Pengikatan
secara kimia butir-butir lempung melalui ikatan antara bagian-bagian negatif dalam
lempung dengan gugus positif (gugus amina, amida, dan amino) senyawa organik berantai
panjang (polimer) (Seta, 1987). Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam.
D.
Peranan
Bahan Organik Terhadap Kesuburan Kimia Tanah
Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain
terhadap kapasitas pertukaran kation, kapasitas pertukaran anion, pH tanah,
daya sangga tanah dan terhadap keharaan tanah. Penambahan bahan organik akan
meningkatkan muatan negatif sehingga akan meningkatkan kapasitas pertukaran
kation (KPK). Bahan organik memberikan konstribusi yang nyata terhadap KPK
tanah. Sekitar 20 –70 % kapasitas pertukaran
tanah pada umumnya bersumber pada koloid humus (contoh: Molisol), sehingga
terdapat korelasi antara bahan organik dengan KPK tanah (Stevenson, 1982).
Kapasitas pertukaran kation (KPK) menunjukkan kemampuan tanah
untuk menahan kation-kation dan mempertukarkan kation-kation tersebut termasuk
kation hara tanaman. Kapasitas pertukaran kation penting untuk kesuburan tanah.
Humus dalam tanah sebagai hasil proses dekomposisi bahan organik merupakan
sumber muatan negatif tanah, sehingga humus dianggap mempunyai susunan koloid
seperti lempung, namun humus tidak semantap kol oid lempung, dia bersifat
dinamik, mudah dihancurkan dan dibentuk. Sumber utama muatan negatif humus
sebagian besar berasal dari gugus karboksil (-COOH) dan fenolik (-OH)nya
(Brady, 1990). Dilaporkan bahwa penambahan jerami 10 t ha–1pada Ultisol mampu
meningkatkan 15,18 % KPK tanah dari 17,44 menjadi 20,08 cmol (+) kg –1(Cahyani,
1996).
Muatan koloid humus bersifat berubah-ubah tergantung dari nilai pH
larutan tanah. Dalam suasana sangat masam (pH rendah), hidrogen akan terikat
kuat pada gugus aktifnya yang menyebabkan gugus aktif berubah menjadi bermuatan
positip (-COOH2+dan -OH2+), sehingga
koloid koloid yang bermuatan negatif menjadi rendah, akibatnya KPK turun.
Sebaliknya dalam suasana alkali (pH tinggi) larutan tanah banyak OH-, akibatnya
terjadipelepasan H+dari gugus organik dan terjadi peningkatan muatan negatif (-COO-,
dan –O-), sehingga KPK meningkat
(Parfit, 1980). Dilaporkan bahwapenggunaan bahan organik (kompos) memberikan
pengaruh yang lebih baik terhadap karakteristik muatan tanah masam (Ultisol)
dibanding dengan pengapuran (Sufardi et al., 1999).
Fraksi organik dalam tanah berpotensi dapat berperan untuk
menurunkan kandungan pestisida secara nonbiologis, yaitu dengan cara
mengadsorbsi pestisida dalamtanah. Mekanisme ikatan pestisida dengan bahan
organik tanah dapat melalui: pertukaran ion, protonisasi, ikatan hidrogen,
gaya vander Waal’sdan ikatan koordinasi
dengan ion logam (pertukaran ligan).
Tiga faktor yang menentukan adsorbsi pestisida dengan bahan organik : (1)
karakteristik fisika-kimia adsorbenya (koloid humus), (2) sifat pestisidanya, dan
(3) Sifat tanahnya, yang meliputi kandungan bahan organik, kandungan dan jenis lempungnya,
pH, kandungan kation tertukarnya, lengas, dan temperatur tanahnya (Stevenson,
1982).
E.
Peranan
Bahan Organik Terhadap Biologi Tanah
Bahan organik merupakan sumber energi bagi makro dan mikro-fauna
tanah. Penambahan bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan
populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan
aktivitas dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Beberapa mikroorganisme
yang beperan dalam dekomposisi bahan organik adalah fungi, bakteri dan
aktinomisetes. Di samping mikroorganisme tanah, fauna tanah juga berperan dalam
dekomposi bahan organik antara lain yang tergolong dalam protozoa,
nematoda, Collembola, dan cacing tanah.
Fauna tanah ini berperan dalam proses humifikasi dan mineralisasi atau
pelepasan hara, bahkan ikut bertanggung jawab terhadap pemeliharaan struktur
tanah (Tian, G. 1997). Mikro flora dan fauna tanah ini saling berinteraksi
dengan kebutuhannya akan bahan organik, kerena bahan organik menyediakan energi
untuk tumbuh dan bahan organik memberikan karbon sebagai sumber energi.
Pengaruh positip yang lain dari penambahan bahan organik adalah
pengaruhnya pada pertumbuhan tanaman. Terdapat senyawa yang mempunyai pengaruh
terhadap aktivitas biologis yang ditemukan di dalam tanah adalah senyawa
perangsang tumbuh (auxin), dan vitamin (Stevenson, 1982). Senyawa-senyawa ini
di dalam tanah berasal dari eksudat tanaman, pupuk kandang, kompos, sisa
tanaman dan juga berasal dari hasil aktivitas mikrobia dalam tanah. Disamping
itu, diindikasikan asam organik dengan beratmolekul rendah, terutama bikarbonat
(seperti suksinat, ciannamat,
fumarat) hasil dekomposisi bahan organik, dalam konsentrasi rendah dapat
mempunyai sifat seperti senyawa perangsang tumbuh, sehingga berpengaruh positip
terhadap pertumbuhan tanaman.
F.
Pengelolaan
Bahan Organik Tanah.
Upaya pengelolaan bahan organik tanah yang tepat perlu menjadi
perhatian yang serius, agar tidak terjadi degradasi bahan organik tanah.
Penambahan bahan organik secara kontinyu pada tanah merupakan cara pengelolaan
yang murah dan mudah. Namun demikian, walaupun pemberian bahan organik pada
lahan pertanian telah banyak dilakukan, umumnya produksi tanaman masih kurang
optimal, karena rendahnya unsur hara yang disediakan dalam waktu pendek, serta
rendahnya tingkat sinkronisasi antara waktu pelepasan unsur hara dari bahan
organik dengan kebutuhan tanaman akan unsur hara. Kualitas bahan organik sangat
menentukan kecepatan proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonymous,
2012. http://goldenbisnis.wordpress.com/kesuburan-tanah/.
Diakses pada tanggal 21 Oktober 2012
Cahyani, V.R.
(1996). Pengaruh Inokulasi Mikorisa Vesikular-Arbuskular Dan perimbangan
Takaran Kapur Dengan Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung Pada
Tanah Ultisol Kentrong, Tesis. Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta. Dalam Pidato
Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan TanahFakultas PertanianUniversitas Sebelas
Maret Pada Tanggal 4 Januari 2003 oleh Prof. Dr. Ir. H. Suntoro Wongso Atmojo.
MS.
Notohadiprawiro,
T. 1989. Dampak Pembangunan Pada Tanah,
Lahan dan Tata Guna Lahan,PSL. UGM. Yogyakarta. Dalam Pidato Pengukuhan
Guru Besar Ilmu Kesuburan TanahFakultas PertanianUniversitas Sebelas Maret Pada
Tanggal 4 Januari 2003 oleh Prof. Dr. Ir. H. Suntoro Wongso Atmojo. MS.
Sufardi,
Djayakusuma, A.D., Suyono, T.S.Hassan, 1999.
Perubahan karateristik muatan dan retensi fosfor ultisol akibat
pemberian amelioran dan pupuk fosfat. Konggres Nasional VII. HITI. Bandung.
Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan TanahFakultas PertanianUniversitas
Sebelas Maret Pada Tanggal 4 Januari 2003 oleh Prof. Dr. Ir. H. Suntoro Wongso
Atmojo. MS.
Seta, A.K.
1987. Konservasi Sumberdaya Tanah. Kalam Mulia. Jakarta. Dalam Pidato
Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan TanahFakultas PertanianUniversitas Sebelas
Maret Pada Tanggal 4 Januari 2003 oleh Prof. Dr. Ir. H. Suntoro Wongso Atmojo.
MS.
Stevenson, F.T.
(1982) Humus Chemistry. John Wiley and Sons, Newyork. Dalam Pidato
Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan TanahFakultas PertanianUniversitas Sebelas
Maret Pada Tanggal 4 Januari 2003 oleh Prof. Dr. Ir. H. Suntoro Wongso Atmojo.
MS.
Scholes, M.C.,
Swift, O.W., Heal, P.A. Sanchez, JSI., Ingram and R. Dudal, 1994. Soil Fertility
research in response to demand for sustainability. In The biological managemant of tropical soil
fertility(Eds Woomer, Pl. and Swift, MJ.) John Wiley & Sons. New York. Dalam
Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan TanahFakultas PertanianUniversitas
Sebelas Maret Pada Tanggal 4 Januari 2003 oleh Prof. Dr. Ir. H. Suntoro Wongso
Atmojo. MS.
Tian, G., L.
Brussard, B.T., Kang and M.J. Swift. Soil fauna-mediated decomposition of plant
residues under contreined environmental and residue quality condition. In Driven
by Nature Plant Litter Quality and Decomposition, Department of 30 Biological
Sciences. (Eds Cadisch, G. and Giller, K.E.), pp. 125-134. Wey College, niversity
of London, UK. Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan TanahFakultas
PertanianUniversitas Sebelas Maret Pada Tanggal 4 Januari 2003 oleh Prof. Dr.
Ir. H. Suntoro Wongso Atmojo. MS.

Post a Comment for "MANAJEMEN KESUBURAN TANAH"