Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar
akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam
pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi
kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan back to
nature telah menjadi trend baru dan meninggalkan pola hidup lama yang
menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan
hormon tumbuh dalam produksi pertanian (Anonim, 2002). Oleh karena itu,
penerapan teknologi pertanian yang berwawasan lingkungan harus mendapat
perhatian dari semua pihak, sebagai landasan pembangunan pertanian
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pola pembangunan pertanian seperti
ini, selain harus dapat memelihara tingkat produksi, juga harus mampu
mengurangi dampak kegiatan pertanian yang dapat menimbulkan pencemaran dan
penurunan kualitas lingkungan hidup. Salah satu kegiatan nyata yang perlu
dilakukan adalah dengan menjaga produksi pertanian dari gangguan organisme
pengganggu tanaman (OPT) serta memperhatikan jasa-jasa ekologis yang diemban
oleh keanekaragaman hayati pertanian, seperti jasa penyerbukan, jasa penguraian
dan jasa pengendali hayati (Tobing, 2009).
Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan
faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura
maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi
menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Organisme pengganggu tanaman
merupakan salah satu penghambat produksi dan penyebab ditolaknya produk
tersebut masuk ke suat negara, karena dikawatirkan akan menjadi hama baru di
negara yang ditujunya. Berdasarkan pengalaman, masih adanya permasalahan OPT
yang belum tuntas penanganannya dan perlu kerja keras untuk mengatasinya dengan
berbagai upaya dilakukan, seperti lalat buah pada berbagai produk buah dan
sayuran buah dan virus gemini pada cabai. Selain itu, dalam kaitannya dengan
terbawanya OPT pada produk yang akan diekspor dan dianalis potensial masuk,
menyebar dan menetap di suatu wilayah negara, akan menjadi hambatan yang
berarti dalam perdagangan internasional (Mulyaman, 2008).
Petani sebagai pelaku utama kegiatan pertanian
sering menggunakan pestisida sintetis terutama untuk hama dan penyakit yang
sulit dikendalikan, seperti penyakit yang disebabkan oleh virus dan patogen
tular tanah (soil borne pathogens). Untuk mengendalikan penyakit ini
petani cenderung menggunakan pestisida sintetis secara berlebihan sehingga
menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Hal ini dilakukan
petani karena modal yang telah dikeluarkan cukup besar sehingga petani tidak
berani menanggunag resiko kegagalan usaha taninya. Selain itu, ketertarikan
konsumen terhadap produk hortikultura yang bersih dan cantik, serta kurang
tersedianya pengendalian non kimia yang efektif, maka pestisida sintetis tetap
menjadi primadona bagi petani (Istikorini, 2002).
Dilema yang dihadapi para petani saat ini
adalah disatu sisi cara mengatasi masalah OPT dengan pestisida sintetis dapat
menekan kehilangan hasil akibat OPT, tetapi menimbulkan dampak terhadap
lingkungan. Di sisi lain, tanpa pestisida kimia sintetis akan sulit menekan
kehilangan hasil akibat OPT. Padahal tuntutan masyarakat dunia terhadap produk
pertanian menjadi bertambah tinggi terutama masyarakat negara maju, tidak
jarang hasil produk pertanian kita yang siap ekspor ditolak hanya karena tidak
memenuhi syarat mutu maupun kandungan residu pestisida yang melebihi ambang
toleransi (Setyono, 2009 dan Anonim, 2009).
Penggunaan pestida yang kurang bijaksana seringkali
menimbulkan masalah kesehatan, pencemaran lingkungan dan gangguan keseimbangan
ekologis (resistensi hama sasaran, gejala resurjensi hama, terbunuhnya musuh
alami) serta mengakibatkan peningkatan residu pada hasil (Anonim, 2008).
Terdapat kecenderungan penurunan populasi total mikroorganisme seiring dengan
peningkatan takaran pestisida (Emalindaet al., 2003). Oleh karena itu
perhatian pada alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan semakin
besar untuk menurunkan penggunaan pestisida sintetis.
Pelaksanaan program pengendalian hama terpadu (Integreted
Pest Management) merupakan langkah yang sangat strategis dalam kerangka
tuntutan masyarakat dunia terhadap berbagai produk yang aman dikonsumsi,
menjaga kelestarian lingkungan, serta pengelolaan sumberdaya alam yang
berkelanjutan yang memberikan manfaat antar waktu dan antar generasi (Saptana at
al., 2010). Salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT) yang sesuai
untuk menunjang pertanian berkelanjutan pembangunan pertanian secara hayati
karena pengendalian ini lebih selektif (tidak merusak organisme yang berguna
dan manusia) dan lebih berwawasan lingkungan. Pengendalian hayati berupaya
memanfaatkan pengendali hayati dan proses-proses alami. Aplikasi pengendalian
hayati harus kompatibel dengan peraturan (karantina), pengendalian dengan jenis
tahan, pemakaian pestisida dan lain-lain.
Perkembangan hasil penelitian tentang berbagai
agensia hayati yang bermanfaat untuk mengendalikan organisme pengganggu pada
tanaman, sebenarnya sudah cukup menggembirakan, walaupun masih relatif sedikit
yang dapat digunakan secara efektif di lapangan. Komponen ini jelas berperan
dalam peningkatan peranan dalam pengamanan produksi dan pelestarian lingkungan.
Berbagai kendala yang menyangkut komponen
hayati antara lain adalah adanya kesan bahwa cara pengendalian hayati lambat
kurang diminati. Oleh karena itu terasa pentingnya suatu komitmen untuk
menentukan suatu gerak terpadu melalui konsep pengendalian hayati yang
menguntungkan dan berkelanjutan dalam pemanfaatannya.
B. Pengendalian
OPT Berdasarkan Konsep Pengendalian hayati
Pengendalian hayati didasarkan pada pemahaman
siklus hidup OPT dan mencegah perkembangan OPT tersebut. Untuk mengembankan
teknik pengendalian secara hayati maka langkah-langkah yang perlu diperhatikan
adalah sebagai berikut :
1.
Definisi masalah. Pertama harus dipahami
masalah, mengetahui penyebab hama penyakitnya, di mana penyebab hama penyakit
bertahan, bagaimana cara menularnya penyakit dan memahami faktor-faktor yang
mendukung perkembangan ekobiologi dan epidemiologinya. Pada sebagian besar
kasus, informasi ini dapat diperoleh dari literature pertanian. Informasi yang
dapat diperoleh adalah tingkat kerusakan, periode ketika tanaman rentan,
tingkat ambang ekonomi.
2.
Langkah-langkah pencegahan. Langkah selanjutnya
analisis praktek budidaya, selangkah demi selangkah. Dengan pengetahuan tentang
hama atua patogen yang diperoleh selama definisi masalah, orang bias mengetahui
apakah praktek budidaya dapat diubah untuk membatasi berkembangnya patogen.
Sumber informasi utama dapat diperoleh dari petani.
3.
Langkah-langkah pengendalian. Langkah-langlah
pengendalian yang khusus dipertimbangkan, dimulai dari langkah-langkah yang
lebih lemah dan kemudian ke yang lebih kuat yang lebih memiliki efek samping
lingkungan.
Dalam pengendalian hayati banyak hal-hal yang
perlu diperhatikan sehubungan dengan sifatnya yang ekologis dan berkelanjutan.
Secara garis besar konsep pengendalian penyakit secara hayati meliputi
hal-hal berikut ini :
1.
Mengenal OPT dan memahami faktor-faktor yang
mendukung perkembangan ekobiologi dan epidemiologinya.
2.
Memahami situasi pada saat tertentu, seperti
tanda-tanda terjadinya eksplosi, apakah proses penularan penyakit berlangsung
biasa atau lambat
3.
Menghindari terjadinya lingkungan yang kondusif
untuk perkembangan dan penularan penyakit, misalnya drainase jelek, tumpukan
tanaman inang, tanaman yang tidak terpelihara. Keberdaan dan efektifitas
agensia hayati dikaitan dalam kondisi seperti ini kurang memberi keuntungan
4.
Memanfaatkan proses pengendalian alami yang
berorientasi pada keseimbangan biologi dan ekosistem, maka agensia hayati harus
dipantau untuk mempertahankan dan meningkatkan peranannya dalam jangka waktu
tertentu
5.
Karena konsep ini mengait dengan system, maka
partisipasi dan kepedulian dari pihak-pihak disiplin ilmua terkait perlu ada,
sebaiknya secara institusional
6.
Sebagai salah satu alternatif dari PHT,
pengendalian hayati harus kompatibel dengan komponen lain, dengan catatan
khusus terhadap pestisida sintetis.
7.
Pengendalian hayati sebagai satu sub- system
yang efektif dapat terwujud dengan mengembangan pengadaan dan proses
sub-komponen utama antagonistic, bahan organik, rotasi dengan tanaman/tumbuhan
yang bermanfaat
8.
Melakukan eksploirasi, identifikasi, efikasi,
perbanyakan dan aplikasi yang sistematik dari antagonis potential
9.
Mengidupkan informasi dua arah antara pengguna,
penyuluh dan sumber teknologi pengendalian hayati
10. Memasukkan
komponen lain (mekanik, pestisida dan lain-lain) pada situasi epidemik dan
pertimbangan lain yang memerlukan tindakan khusus
C. Beberapa
Agen Pengendali Hayati
a.
Parasit Telur Telenomus
Parasit telur Telenomus (Telenomus
rowani; Hymenoptera; Scelionidae) merupakan parsit kecil berwarna
hitam yang memparasiti telur-telur pengerek batang padi. Tingkat parasitasi
tabuhan telenomus dilapangan adalah antara 36%-90% kelomok telur penggerek
batang padi.
Parasit Trichogramma (Trichogramma
japonicum; Hymenoptera; Trichogrammitidae) ini berwarna hitam, lebih
kecil dari semut. Hama ini sering muncul dari kelompok telur pengerek batang.
Tingkat parsitasi dilapangan berkisar antara 40% kelomok telur penggerek batang
padi.
Jangkrik
ekor pedang (Metioche vittaticollis atau Anaxpha longipennis;
Orthroptera: Gryllidae) merupakan jangkrik pemangsa. Jangkrik ini
disebut jangkrik ekor pedang karena memiliki ekor seperti pedang. Jangkrik ekor
pedang muda pun merupakan pemangsa kelompok telur pengerek batang padi
(Santoso, 2009).
Lycosa sp. umumnya terdapat di pertanaman padi sawah
pada awal pertumbuhan vegetative dan memangsa hama sebelum populasi hama
tersebut meningkat hingga aras yang merusak. Laba-laba jenis ini mampu membunuh
2-3 ngengat setiap hari (Harsanti et al., 2000)
Trichoderma koningi mempunyai daya antogonistis terhadap Rigidoporus
microporus.pengamatan secara mikroskopis menunjukan miselia T.
koningi akan membelit keseluruhan hifa dari R.
microsporus sehingga penetrasi dari miselia patogen tidak terjadi dan T
koningi akan tumbuh di daerah pertumbuhan hifa inang patogen tersebut.
Selain itu, berbagai jenis mikroorganisme juga telah dipastikan aktif
mengendalikan patotogen penyebab penyakit baik secara alami maupun dengan
aplikasi (Istikorini, 2002).
D. Prospek
Pengendalian Hayati
Prospek pengendalian hayati perlu ditinjau dari
berbagai aspek, terutama aspek teknis sejak kegiatan di laboratorium dan rumah
kaca. Jumlah dan jenis penelitian yang sudah diperoleh oleh ahli-ahli di bidang
pengendalian hayati sangat besar pada tingkat laboratorium dan rumah kaca,
namun hanya sebagian kecil saja yang telah dimanfaatkan di tingkat lapangan
dalam skala ekonomi. Hal ini tidak perlu menjadi alasan untuk menyatakan bahwa
prospek pengendalian hayati dalam praktek kecil atau kurang relevan.
Keanekaragaman dari mikrooragnisme yang antagonistik
dan kekayaan sumberdaya alam di Indonesia, sebenarnya menjanjikan peluang yang
cukup besar untuk dimanfaatkan dalam pengendalian hayati penyakit tanaman.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia no. 6 tahun 1995 pasal 4 tentang Perlindungan tanaman disebutkan
bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan dengan menggunakan sarana dan cara yang
tidak mengganggu kesehatan dan atau mengancam keselamatan manusia, menimbulkan
gangguan dan kerusakan sumberdaya alam atau lingkungan hidup (Suniarsyih,
2009). Untuk maksud tersebut yang paling cocok pertanian untuk masa depan
adalah pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Adapun
definisi pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya untuk usaha
pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan
atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam. Dalam
pertanian berkelanjutan perlindungan tanaman harus dilakukan dengan
prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) (Istikorini, 2002).
Pengendalian secara hayati merupakan cara
pengendalian yang lebih ramah lingkungan dbandingkan dengan pemakaian
pestisida. Berdasarkan hal-hal yang telah disebutkan di atas pengendalian OPT
secara hayati dapat digunakan sebagai salah satu komponen dalam pengendalian
hama secara terpadu (PHT).
Post a Comment for "Pengelolaan Agroekosistem Dalam Pengendalian OPT Berdasarkan Konsep Pengendalian hayati"