Kualitas Seorang Kader
Para sahabat
adalah kumpulan manusia dengan keimanan dan keyakinan yang besar. Apa yang
terjadi dalam perang khandaq, bukan sekedar pesona Rasulullah sebagai seorang
pemimpin, namun juga pesona kader yang kuat dalam barisan dakwah Rasulullah
saw.
A.
Memiliki Keberanian yang tinggi
Berani adalah
buah dari konsekuensi berakidah, sebagaimana ungkapan para ulama, “Al-Muqtadhayaatu
al-aqiidatu al-ulaa asy-syaja’ah”. Keberanian menjadi indikator penting
dalam menentukan kualitas kepribadian seorang muslim. Tidak ada yang dia takuti
di muka bumi ini, karena keyakinan kuat bahwa yang berhak untuk ditakuti
hanyalah Allah swt.
Jihad adalah
salah satu fasilitas sekaligus alat untuk menguji kualitas keberanian seseorang
yang paling tinggi. Puncak dari jihad itu adalah qitaal atau mengangkat
senjata melawan musuh. Di sanalah orang menyambung nyawa dan rahasia keberanianya
akan terbongkar. Allah SWT juga menguji siapa di antara hamba-hamba-Nya yang
memiliki tingkat kesabaran dalam jihad. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan
fasilitas berupa jihad supaya jelas siapa yang benar imannya atau sekedar
pura-pura. Jihad adalah alat penyaring untuk memisahkan siapa yang baik dan
siapa yang buruk.
Jika
diperhatikan mentalitas sahabat ketika melihat pasukan ahzab dalam perang
Khandaq dengan jumlah besar tersebut, tidak membuat nyali mereka menjadi ciut.
Jumlah musuh yang banyak semakin membuat mereka terpanggil untuk berhijad dan
iman mereka semakin bertambah.
B.
Akhlak Terhadap Pemimpin
Interaksi
antara seorang kader atau anggota dengan pemimpinnya adalah pola hubungan
multiinteraksi, terkadang seperti anak terhadap orang tuanya, seperti murid
terhadap gurunya, seperti prajurit terhadap panglimanya, semua tergantung
situasinya. Dalam islam ketika seorang pemimpin telah membuktikan keikhlasan
dan kapasitasnya sebagai pemimpin, maka dia berhak menuai kemuliaan,
penghargaan, kecintaan, dan kesiapn diperintah olehnya.
Imam Hasan
Al-Banna dalam risalahnya mencantumkan pada pembahasan rukun baiat tentang tsiqah
atau kepercayaan. Belaiu mendefenisikan keprcayaan dalam berorganisasi
sebagai “Ketenangan hati seorang jundi atau prajurit atas pemimpinnya karena
keikhlasan dan kapasitas pemimpinya. Ketenangan yang dalam oleh seorang prajurit
akan membuahkan cinta, penghormatan, kemuliaan, dan ketaatan kepada
pemimpinnya.”
Perang khandaq,
memperlihatkan akhlak sahabat dalam memperlakukan Rasulullah saw sebagai
pemimpin mereka. Meraka sangat mencintai Nabi saw, bahkan mengalahkan rasa
cinta mereka terhadap diri mereka sendiri.
Akhlak seorang
kader juga terlihat dalam adab meminta izin. Meminta izin bukanlah hal yang
tabu, juga bukan gamabaran lemahnya iman. Namun izin adalah salah satu gambaran
kualitas kepribadian seorang anggota. Bagi kader yang baik, mereka akan meminta
izin secara baik-baik dengan alasan yang benar. Kebiasaan diantara kita ebih sering
memberitahu daripada meminta izin. Ada perbedaan antara keduanya, pemberitahuan
dilakukan pada saat atau setelah selesai melaksanakannya, baru dikonfirmasikan
kepada pemimpin. Contohnya, ketidak
hadiran dalam sebuah pertemuan cukup dengan mengirim sms kepada penanggung
jawab, “Mohon izin, saya tidak bisa hadir karena sedang di luar kota”. Apa
yang mau diizinkan jika memang sudah diluar kota. Meminta izin seharusnya
sebelum melakukan suatu amalan. Redaksinya misalkan, “ Bolehkan saya tidak
hadir dalam acara ini karena saya akan keluar kota”, inilah yang disebut
meminta izin.
C.
Indhibat (Disiplin)
Kedisiplinan adalah
bagian penting interaksi dua arah antara seorang pemimpin dan anggota. Baik
pemimpin maupun anggota, keduanya harus tetap disiplin karena berada dalam satu
perahu,satu misi, satu obsesi, dan satu harapan perjuangan yang sama. Supaya obsesi
dapat diraih dibuatlah manajemen efektifitas kerja, ada yang memimpin dan ada
yang dipimpin, dengan tujuan agar efektif dan efisien.
Pada peristiwa
khandaq terlihat sahabat yang diberikan tugas khusus dapat menunaikan dengan
baiak dan penuh kedisiplinan. Rombongan pengintai yang dikirim oleh nabi saw. untuk
memastikan apakah bani Quraizah berkhianat atau tidak, mampu menunaikan dengan
baik. Penggalian parit yang dikerjakan oelh 700-an sahabat bisa selesai tepat
waktu sebelum musuh datang adalah bukti kedisiplinan dalam bekerja.
Di tengah-tengah
peperangan tersebut, sahabat Nu’aim bin Mas’ud membuktikan kedisplinan
menunaikan tugasnya setelah diperintahkan Rasul saw. untuk memecah belah
pasukan ahzab. Dengan cerdas beliau bisa mentafsirkan makna hadits Nabi “Sesungguhnya
perang adalah tipu daya”. Betapa disiplinya sahabat Huzaifah ibnu Yaman ketika
mendapat tugas menyusup ke pasukan musuh di malam hari untuk memastikan kondisi
pasukan musuh. Begitu hebat dan disiplin ia menyusup. Dalam sebuah riwayat ia
mengatakan, “Sesungguhnya tempat dudukku saat itu sangat dekat dengan Abu
Sofyan, aku bisa membunuh Abu sofyan malam itu jika mau, namun Rasulullah saw. berpesan
kepadaku hanya untuk mengintai saja”. Sekiranya beliau indisipliner maka
ceritanya akan menjadi lain.
Sumber:
“manajemen gerakan Dakwah dimasa krisis, belajar dari sejarah
perang khondaq” karya Drg. Sukhri Wahib
Post a Comment for "Kualitas Seorang Kader"