Hidup sebagai seorang aktivis
membuat saya lebih mengektrakan diri untuk berbuat lebih. Khususnya sebagai
aktivis islam yang ada di kampus dan masyarakat pada umumnya. Pada zaman saat
ini kondisi umat islam yang semakin jauh dari nilai-nilai islam itu sendiri.
Keterbelakangan dan kemunuduran islam telah merambah di segala aspek termasuk
negara-negara islam, namun islam masih punya pemuda yang mampu sebagai aset
yang akan bisa mengembalikan kejayaan islam dan aset tersebut akan ada terus.
Sebagai pemuda maka ada harap bagi
saya untuk termasuk dalam golongan pemuda-pemuda yang mampu mengembalikan islam
pada kejayaannya. Sangat tidak layak jika pemuda muslim hanya sebagai penonton
atas kembali kejayaan itu. Untuk mencapai ke jayaan itu tidaklah hal yang mudah
di capai. Perlu ada tahapan-tahapan yang harus dicapai. Ada tiga langkah yang
disebutkan dalam buku dari pergerakan ke negara karya anis matta untuk
mencapai kejayaan tersebut.
Pertama,
kita
harus memperbaruhi afiliasinya kepada islam kembali sebab keislaman kaum
muslimin saat ini lebih banyak dibentuk oleh warisan lingkungan sosial, bukan
dari pemahaman dan kesadaran yang
mendalam tentang islam. Kedua, menciptakan manusia muslim yang
shalih maka pada tahapan kedua ini manusia shalih itu kita leburkan ke dalam
masyarakat, agar ia mendistribusi keshalihannya kepada yang lain; agar keshalihan individual itu
berkembang menjadi keshalihan kolektif. Ketiga, pada tahapan ini kita
perlu menjamin bahwa setiap orang yang berpartisipasi itu benar-benar dapat
mencapai tingkat paling optimal dalam memberikan kontribusi kepada islam. Salah
satu sumber kekayaan masyarakat islam adalah keunikan-keunikan individual dari
setiap manusia muslim, yang apabila potensi-potensi individual tertuang secara
penuh dan bentuk sebuah muara islam yang sinergis, sebuah gelombang peradaban
yang dahsyat akan segera menggemuruh membelah sejarah.
Dari
tahap tersebut kita di minta menjadi individu yang memiliki sebuah potensi yang
mampu menjadi pengaruh pengerak dan bisa jadi panutan. Sebelumnya harus ada
perbaikan diri, kemudian kebaikan tersebut untuk bisa disebarkan. Agar
al-hikmah yang kita dapat bisa menyebar kesemua masyarakat sekitar. Dan itu
masuk dalam tahapan ketiga, dimana masyakarat akan menjadi sulit membedakan
antara pesona kebenaran islam dengan pesona kepribadian manusia muslim.
Oleh karena itu sebelum terjun langsung pada
dunia kerja/profesi nyata yang di geluti, maka perlunya menjadi muslim yang kaffah,
menjadi teladan bagi yang lain. Saat ini profesi saya adalah yang sebagai mahasiswa sekaligus ADK (Aktivis
Dakwah Kampus), yang mana saya mencoba untuk melaksanakan ke ketiga tahapan
diatas dalam miniatur negara di Universitas Brawijaya. Di satu sisi saya harus
memperbaiki diri dalam keislaman pada pribadi sebagai tahapan yang pertama.
Kemudian di sisi lain, pada amanah yang saya memban sebagai Kadept. PSDM
Forsika FP harus mendapat mengimplikasikan tahapan yang kedua dan ketiga.
Jika
ketiga tahapan tadi mampu dilaksanakan dengan baik pada di miniatur negara
(kampus). Hal tersebut akan memberikan efek pada perubahan sosial mahasiswa
khususnya mahasiswa muslim. Kita ketahui bersama pada saat ini banyak mengikuti
budaya barat (kafir), yang berkibat menjauhnya karakter pribadi muslim pada
mahasiswa muslim. Bukan karena sebab mereka semacam itu, faktor yang salah
satunya adalah jauhnya mereka dengan sosok figur tokoh islam, seperti mereka
tidak mengerti sirah Nabi Muhammad SAW dan sirah Sahabat. Sehingga mereka tidak
miliki sosok figur yang jadi panutan bisa ditiru. Maka saat ini dibutuhkanlah
seorang figur yang memiliki kepribadian mendekati kepridian Rasulullah SAW yang
bisa diterima oleh semua kalangan. Termasuk mengamalkan sunah-sunah beliau.
Sehinga krisis kepemimpin di bangsa ini bisa diatasi dengan menciptakan
pemimpin semacam itu di miniatur negara (kampus) sebelum terjun ke dunia pasca
kampus. Bukan berarti setiap profesi yang kita jalani tidak tidak ada peluang
untuk menyebarkan teladan-teladan kebaikan. Selagi kita mampu menjadi sosok
teladan, vokal, figur pemimpin pada diri kita, akan memberikan banyak peluang
untuk menyiarkan setiap dari agama kita yang syamil muthakamil.
Hal
yang menjadi tolak ukur keberahasilan kita dalam menjalan profesi pribadi kita,
sebagai seorang muslim adalah seberapa besar pengaruh kita kepada orang-orang
sekitar kita. Untuk dapat memberikan kebaikan dalam mensyiarkan syari’at islam
secara luas. Saya sekarang ini belajar memiliki pribadi mampu menjalan profesi
sebagai muslim yang kaffah. Selain itu juga dituntut agar mampu membina
agar keberlangsungan dakwah yang dibawah terus berlangsung, walaupun profesi
kita suadah berganti atau bahkan saat raga ini tidak mampu lagi mengemban
profesi. Maka kemampuan membina ini adalah salah ahal yang terpenting dalam
menjalankan profesi.
Ketika
dalam diri sudah menjiwai islam melalui pembinaan yang mampu menterbiya diri,
maka dalam diri juga akan mengalir untuk menjalankan setiap profesi pribadi sebagai
insan yang kamil. Dimana berada, maka mampu mewarnai. Profesi kita
adalah sarana dakwah kita, bukan sebuah tujuan yang akan menhanyutkan tanpa
adanya sebuah gerakan. Sarana dakwah juga semakin luas. Segala hal yang kita
memiliki sebutulnya adalah juga sarana dakwah, bagi mereka paham dan memahami bahwa
islam yang syamil muthakamil segala segi dalam kehidupan. Tinggal segi
mana yang mampu kita lejitkan sarana dakwah yang kita kuasai.
Menyandang status mahasiswa sebagai
profesi saat ini yang sekaligus merangkap aktivis dakwah kampus. Itu berarti ada suatu
tanggung jawab dalam memperbaiki umat kaum muslimin khususnya sebagai Agent
of Change, Social Control, and Iron Stock. Tidak salah jika masa depan kita
itu memiliki benang merah dengan masa dengan bangsa, karena kita adalah pemuda.
Oleh karena itu setiap profesi kita haruslah mampu sebagai sarana mengembalikan
karakter umat muslim dalam upaya menjacapai Ustadziyatul Alam. Dan yang
menjadi pondasi utama adalah terbentuknya individu-individu muslim yang telah
memenuhi 10 muwasafat yang perlu ada pada seoarang Muslim: 1) Ibadah yang
mantap. 2)Ibadah yang soleh. 3)Pengetahuan yang luas. 4)Berdikari. 5)Melawan
Nafsu. 6)Pengurusan Sistematik. 7)Akhlak mulia. 8)Tubuh yang sehat. 9).
Mengurus Waktu. 10)Bermanfaat pada orang lain. Semoga individu-individu yang
telah terpenuhi muwasofatnya maka akan mampu menjalankan profesinya sebagai
sarana dan ladang dakwah yang luas dalam keluarga, masyarakat, peraturan,
pemirantahan negara sampai tercapainya Islam sebagai Ustadziyatul Alam.
Dibuat dalam rangka pembuatan Esai "Aku, Islam dan Profesiku" (Gema Insani Press)
Dibuat dalam rangka pembuatan Esai "Aku, Islam dan Profesiku" (Gema Insani Press)

Post a Comment for "Pengabdian profesiku dalam penghambaanku untuk kejayaan-Nya"